|
03 Jun 2010 ”Drama Tambang Pasir” (Sebuah Realita Eksploitasi Tambang) Tambang..Preman..Intimidasi..yang berdalih peningkatan Ekonomi dan PAD.
Kegiatan penambangan pasir di Kecamatan kemalang sudah berjalan hampir 6 tahun dengan jumlah truk perhari semalam 2500 truck dengan muatan rata-rata 8m3,berapa perhari berapa perbulanya dan berapa pula duit yang masuk di kecamatan kemalang dalam perhari.ada dua macam akibat itu ; ekonomi dan kerusakan lingkungan, berikut data riil dilapangan patut sebagai pembelajaran untuk Kawasan yang saat ini belum kemasukan kegiatan tambang pasir .
Kronologi kegiatan
Tambang pasir baik yang berijin maupun tidak berijin kegiatanya di lahan milik masyarakat dengan pembagian hasil itungan Ritase (truck),1 truck di jual dengan harga Rp.210.000,- s/d Rp.225.000,- /Truck kapasitas 8-10m3, dengan pembagian Petani / pemilik lahan Rp.28.000,- sd 30.000,- pemilik alat berat Rp.100.000,-s/d Rp.110.000-, kemudian sisanya untuk Ijin,upeti ke Preman berseragam,dan pengelola tambang yang biasanya Preman local,tanggung jawab Reklamasi tanggungan pengelola/pemilik alat.
Hak dan kewajiban masing-masing itu hanya ada dala kesepakan pengelola dan pemilik lahan, sedangkan kewajiban yang lain tidak diketahui oleh pemilik lahan atau masyarakat umum, sehingga jikalau timbul masalah ada penertiban dan sejenisnya yang bertanggungjawab pengelola dan pemilik alat,dampak yang di timbulkan dengan keuntungan masyarakat tentu saja tidak sebanding, ada di suatu kampung di Desa sidorejo dengan karena tambang rumah bagus-bagus(layaknya sebuah Kota Kecil) lengkap dengan segala kemewahan sepeda motor merk bagus,Mobil,tuck, dan peralatan rumah tangga yang serba modern, tetapi tidak ada yang mau sekolah sampai ke SMP (atau kelas 7 ke atas), yang dulu kampung ini paling banyak pelajar dan Sarjananya, kemudian merantau tidak pulang lagi. Semua kemewahan hasil kegiatan tambang, mungkin kampung inilah yang menjadi dasar pemegang kebijakan mudah sekali mengeluarkan ijin tamabang, disisi lain masih di kecamatan kemalang ada juga kegiatan tambang dengan alat berat, sebagian kecil pengelolanya juga hidup dengan kemapanan lengkap dengan kemewahan dan kemudahan hidup karena duiotnya banyak, di sekitar ini ada beberapa masyarakat yang tetap bertahan untuk tidak menambang ,karena di kiri kananya sudah di tambang maka si pemilik lahan yang bertahan tersebut menyatakan kalimatnya “siapapun yang mengubah,melongorkan tanah saya walau hanya sekepal tangan harus mengembalikan ke tempat semula,dan siapapun yang menyebabkan pohon maupun rumput di kebun saya pindah,teruruk atau tidak sesuai aslinya harus mengembalikan dan bertanggung jawab atas perubahanya” katanya dengan nada sinis. Adalagi masih di sekitar lokasi tersebut, ternyata longsor di kebun yang tetap bertahan tidak menambang tetapi dia meminta ganti rugi longsor Rp.5000.000,- kemudian naik lagi bisa dilihat kegiatan tamabng dengan berbagai warna,ada yang selesai kemudian di reklamasi,dan di tanami pohon sudah menghijau kembali,.. walaupun tebingnya lebih dari 30 meter kedalamanya,naik lagi kita akan menjumpai lebih extrim bekas tambang yang di utaranta kurang dari 4 meter adalah sebuah bangunan Rumah yang keluarganya ada anak2 anak kecil,sedangkan kedalamanya tebing tersebut tidak kuarang dari 40 meter,pernah kejadian suatu ketika ayamnya si pemilik rumah tersebut masuk ke bekas tambang tidak bisa pulang lantaran tingginya tebing,yang mempunyai rumah tidak bisa berkutik apapun mau protes dengan siapa?? Kalau dengan si pemilik tanah dia adalah tetangga baiknya, kalau dengan pengelola tidak berani lantas membiarkan rumahnya di dekat tebing setinggi 40 meteran,masih di lokasi ini kita lihat di seberang timur deretan rumah kampung lain yang bernasib sama tetapi tidak jadi konflik karena mereka menjual pasirnya sendiri kepada pengelola tambang, kalimat jawa “gaman makan Tuan” celeka karena tingkahnya sendiri.Kemudian kita naik lagi 100 meter ke utara pemandangan yang luar biasa Indah.. Puncak merapi dan tubuh merapi yang gagah kelihatan wibawanya,.. ketika kita memandangi kegiatan di bawahnya bagaikan pasar malam lampu-lampu,kendaraan lalu-lalang, kadang ada beberapa orang dengan berpakaian necis bersih turun dari mobil mewah,tak lama ada yang mendekat,, menujuk..nunjuk sebuah kebun hijau yang masih utuh dan banyak pohonya itulah kebun Pak somo yang bertahan sampai saat ini. Pemandangan tersebut adalah kegiatan tambang dengan alat berat sejumlah 4 alat berat, dan kesibukan ambangnya.ada pemandangan lain yang tentu saja kami tidak berani menyebutnya (“ada bebrapa Pria pakaian seragam”) [Rakom Lintas Merapi]
|