|
01 Oct 2009 Tidak Ada Anggaran, Sampah Overload Magelang- Sampah di Kabupten Magelang diprediksi akan terus menumpuk untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Utamanya, di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS). Pasalnya, pihak pengelola mengaku kehabisan dana operasional untuk memindahkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kepala Bagian Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumberdaya Mineral (DPUESDM) Kabupaten Magelang, Soewito mengatakan jika hal tersebut, merupakan buntut belum di tetapkannya anggaran perubahan APBD tahun 2009. ”Jadi anggran kita hanya sampai bulan agustus, sehingga, di luar itu kita sudah tidak ada anggaran lagi. Sekarang sampah sudah overload,” jelasnya, (1/10). Sehingga, katanya, adanya penumpukan sampah di beberapa TPSS merupakan salah satu konsekuensinya. Bahkan, hal tersebut, juga berbuntut munculnya keluhan masyarakat yang disampaikan kepada pihaknya. ”Jadi, untuk saat ini, sampah yang idealnya diangkut setiap hari, belum kita lakukan. Sehingga, banyak TPSS yang menimbulkan bau busuk,” katanya. Padahal, katanya, dalam satu hari pihaknya membutuhkan anggaran sebesar Rp 1,5 juta untuk biaya operasional pengakutan sampah ini. Rinciannya untuk biaya bahan bakar sebanyak 335 liter untuk delapan truk yang digunakan. ”Biayanya sekitar Rp 1,5 juta perhari, itu untuk mengakut di tujuh TPSS diantaranya di Muntilan, Mertoyudan, Salaman, Borobudur, Grabag, Mungkid, dan Secang,” jelas pria bertubuh gempal ini. Lebih lanjut, kata Soewito, volume sampah mengalami peningkatan drastis. Masing-masing TPSS yang biasa hanya menampung 7 meter kubik kini kini jumlahnya sudah melebihi kapasitas itu. ”Peningkatannya sekarang jumlahnya mencapai 25 persen dari sebelumnya,” paparnya. Seowito mengatakan jika pihaknya sudah berusaha melakukan penanganan terhadap hal tersebut. Namun, selepas bulan agustus baru tiga kali melakukan pemindahan sampah, secara swadaya. Sehingga, hasilnya tetap tidak maksimal. ”Jadi kami berharap, penetapan APBD perubahan, segera dilakukan karena ini adalah kebutuhan yang sangat mendesak,” harapnya. Kepala DPUESDM Haryono Yahmo membenarkan jika terjadi penumpukan di beberapa TPSS, karena minimnya biaya operasional. Untuk itu, dia mengatakan akan mengupayakan jalan lain untuk mengantisipasi hal ini. ”Misalkan saja melalui perbub, karena saya rasa masalah sampah ini sangat penting sekali. Jika terus berlarut dikhawatirkan akan berakibat buruk.,” jelasnya saat ditemui di kantonya. Sementara itu, pantauan di lokasi penampungan sampah sementara yang terletak di Pasar Muntilan, tumpukan sampah nampak belum tertangani. Sehingga, untuk menghilangkan bau busuk, beberapa warga setempat memilih membakarnya. ”Wah baunya sampai kemana-mana Mas,” jelas salah seorang pedagang bernama Suharsini, warga Borobudur Magelang. Lebih lanjut, selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah tersebut juga menjadi sarang penyakit. Pasalnya, sering kali dia melihat jentik-jentik dan belatung di dalamnya. ”Selain itu ada banyak lalat juga,”. (Ahmad Muslim) [Rakom KFM]
|