|
|
 |
 |
Kirimkan SMS anda ke: 0819-33-277638 dgn diawal kata: merapi <spasi> isi pesan anda |
|
|
| EKONOMI LOKAL |
 |
Komisi Penanggulangan Aids Belum Jalan KFM, Magelang– Setiap daerah diminta membentuk lembaga atau komisi penanggulangan Aids (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Biaya kegiatannya dianggaran dalam APBD. Namun di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Komisi tersebut belum berfungsi maksimal. ...selengkapnya Setiap hari, Puluhan Pelamar CPNS Kab Magelang Tak lolos seleksi KFM, Magelang- Puluhan berkas pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak memenuhi syarat yang di tentukan paitia, sementara tidak ada ketentuan bagi panitia untuk mengembalikan berkas tersebut, sehingga pelamar otomatis dinyatakan gugur. ...selengkapnya Jelang Musim Tanam,Harga Pupuk Kandang Naik KFM, Magelang– Sudah menjadi rutinitas, setiap menjelang musim tanam, harga pupuk kandang naik dibanding sebelumnya. Kenaikan harga tersebut, sudah terjadi sejak sebulan terakhir atau petani mulai mempersiapkan lahan pertaniannya. Dari pantauan KFM diwilayah Kecamatan Muntilan dan Mungkid, Jum”at (06/11) kenaikan harga pupuk kandang mencapai Rp 25.000 hingga Rp 30 ribu per rit (satu mobil jenis L 300 atau colt) dari sebelumnya sebesar Rp 100.000. ...selengkapnya CPNS Kabupaten Magelang, Pendaftar on line capai 2500 orang KFM, Magelang- Tujuh hari sejak pendaftaran on line untuk penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diwilayah Kabupaten Magelang dibuka, jumlah peminat yang mendaftar sudah mencapai sekitar 2500 orang. Kepala Bagian Humas dan Protokol, Drs Djanu Trepsilo mengatakan, jumlah pendaftar diperkirakan akan terus bertambah, mengingat pendaftaran baru akan ditutup Senin (9/11) mendatang.
...selengkapnya 85 Desa di Jawa Tengah, Siap jadi Desa Wisata KFM, Magelang- Sebanyak 85 desa yang akan dipromosikkan sebagai Desa Wisata di wilayah Jawa Tengah, saat ini telah siap digarap oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Jateng. Namun hingga tahun ini, baru 22 diantaranya yang terealisasi. ...selengkapnya | |
 |
| LINGKUNGAN |
 |
Mengisi Liburan Sekolah Dengan Naik Merapi Cerita Pendakian Merapi Anak SD Umur 10 th
...selengkapnya Keruwetan Lalu-Lintas di Muntilan Lalu lintas di kota Muntilan saat ini sangat berbeda dibanding 10 tahun yang lalu. Mudahnya kredit kendaraan bermotor menjadikan jalan raya semakin padat. Hal tersebut disikapi pihak yang berwenang dengan mengaspal halus hampir seluruh jalan yang ada didalam kota, demikian juga rambu-rambu lalulintas bertebaran di seluruh jalanan. Namun demikian, hal yang patut disayangkan adalah kurang tertibnya semua pihak yang berhubungan dengan jalan raya tersebut.
Lihatlah saja Jalan Pemuda yang merupakan jalan protokol kota Muntilan Jalan yang seharusnya satu arah tetap digunakan pengguna untuk berkendara sepedamotor melawan arus di jalur lambat. Ketidaktertiban ini dimanfaatkan pihak yang berwajib dengan seringkali menunggu di ujung jalan yang lain. ...selengkapnya Cintai Merapi dengan Melakukan Penanaman Pohon Jambu Biji Pahlawan lingkungan tanpa tanda jasa, tanpa mengharap imbalan dan penghargaan atau sejenisnya. Adalah masyarakat Merapi bersama dengan Pasag Merapi Klaten dan Radio komunitas Lintas Merapi dan masyarakat Deles pada bulan Januari silam memulai lagi melakukan kegiatan menanam Jambu Biji di Merapi. Pada bulan Januari telah tertanam 500 pohon kini akan di tanam 10.000 pohon.
Tanaman jambu biji ini bukan untuk buahnya manusia, tetapi untuk menyediakan makan bagi kera di hutan Merapi. Hal ini akan menjadi jawaban bagi kebijakan pengelola hutan (Taman Nasional Merapi) yang dulu pernah mendatangkan penangkap kera, yang konon suku “BAIDUI”, yang malah ditahan di rumah warga lantaran tidak kulon nuwun (ijin pada warga) Deles. ”Bagi kami mengelola hutan itu tidak memasang papan nama, papan larangan, tetapi tindakan yang nyata yang bisa dirasakan oleh semua orang dan bukan harus proyek yang harus mengeluarkan biaya” kata masyarakat Deles, “selama ini dari pihak Taman Nasional yang punya proyek hanya sosialisasi undang-undang saja belum ada tindakan yang jelas,” jelas Riyanto. ”kegiatan ini juga adalah wujud kedekatan, kecintaan masyarakat pada Hutan Merapi".
"Bahkan kami tidak terima kalau masyarakat dituduh sebagai pihak yang ikut andil kerusakan di Merapi, yang merusak Merapi adalah sistem yang tidak berpihak pada masyarakat yang dekat dengan hutan,” kata Sukiman ketika membahas jadwal penanaman Jambu Biji. ” Kera memang hama tetapi bukan harus dibunuh atau dihilangkan, cukup kita sediakan makan to?” tambah Sukiman. Kalau dilihat dari Undang-undang Kehutanan tentang Taman Nasional, menurut sosialisasi dari pihak Taman Nasional Merapi beberapa bulan yang lalu menanam itu bisa salah. Tetapi bagaimana dan apa yang harus dilakukan warga, wong dulu waktu tanam Pinus dibekas kena awan panas Wono “ Siluman” yang dulu kampung sekarang jadi hutan warga menaman atas dasar kesadaran. Karena warga hanya ingin hutan tetap lestari tetapi ekonominya juga kecukupan hanya dengan mengambil rumput dan rencek (ranting kering). Bibit Jambu Biji yang akan ditanam kali ini dukungan bibit dari mantan camat Kemalang, Herlambang J Santosa . Bukti kecintaan masyarakat dengan menanam Jambu Biji ini seharusnya juga membuat para pemegang proyek Merapi berpikir bahwa “MERAPI TIDAK CUKUP DI KELOLA DENGAN MEMBERI NAMA, MEMASANG PAPAN LARANGAN,TANPA MELAKUKAN UPAYA UNTUK LESTARINYA MERAPI” ( Warga Merapi)
...selengkapnya Jalan ini untuk siapa? (Sutet FM, Muntilan, Magelang). Penambangan pasir di lereng merapi disamping ada manfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar lereng tetapi juga menimbulkan ekses negatif bagi lingkungan merapio. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar uang yang dihasilkan dari penambangan masuk ke kantong-kantong pribadi
Roda-roda gila melaju di jalanan selama sekian tahun. Dengan tonase yang melebihi batas maka wajar saja jalan Talun berubah menjadi layaknya sungai di musim kering. Pelanggaran tonase yang terjadi sepertinya menjadi pemandangan biasa padahal jelas-jelas truk-truk pengangkut pasir melewati kantor kecamatan Dukun dan Kantor Polsek Dukun. Tetapi sampai sejauh ini dirasakan oleh masyarakat belum ada tindakn dari aparat kecamatan ataupun dari aparat kepolisian yang notabene sebagai penegak hukum....selengkapnya Sumur Sapu Angin Upaya Masyarakat Menyediakan Air Bersih Lereng Merapi Sumur Sapu Angin yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi merupakan salah satu upaya warga yang sangat membutuhkan air bersih. sementara di wilayah ini air sangat mahal dan harus di beli menggunakan tangki seharga kurang lebih rp 160 ribu pada saat musim kemarau seperti saat ini.
...selengkapnya | |
 |
| BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL |
 |
Syawalan Pasag Merapi Meriah Tampa Liputan Media, 800 lebih peserta penuhi Deles Indah ...selengkapnya Kampanye Penghijauan Sudah menjadi Tradisi tahunan Radio komunitas lintas Merapi, setiap musim hujan mengadakan Program kegiatan penghijauan atau penanaman pohon di merapi,a sejak dini kampanye berupa tulisan (fanlet) di sebar ke pendengar/komunitas, kemudian berupa Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dan Mengkampanyekan di setiap ada pertemuan dengan warga, pertemuan resmi maupun tidak resmi di Balai Desa Maupun di kecamatan. Ini di lakukan crew Lintas merapi karena Radio tidak mempunyai dana yang cukup untuk kegiatan/program tersebut. ...selengkapnya Tlatah Bocah "Ayom Ayem" Rumah Pelangi salah satu kelompok swadaya masyarakat di Muntilan, bulan depan akan mengadakan agenda budaya tahunan TLATAH BOCAH di lereng Gunung Merapi. Tema yang diangkat adalah "AYOM AYEM" (pelindung & pemberi kedamaian) dimana digunakan untuk menyikapi berlangsungnya dua pemilu di negara kita. Harapan yang dikemukakan itu sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk pemimpin pemerintahan namun juga untuk siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan atas pihak lain, seperti halnya Camat, Lurah, Kepala Dusun terhadap warganya. Namun juga guru terhadap murid, orang tua terhadap anak, juga kalangan dewasa terhadap anak-anak meskipun tidak ada hubungan darah. TLATAH BOCAH tahun ini adalah yang ke 3 kalinya. Kali ini agenda yang diselenggarakan bersifat marathon karena dimulai dari tanggal 17 Juni 2009 dan berakhir tanggal 19 Juli 2009 di beberapa dusun. Selama dua minggu, diadakan roadshow berupa inventarisir permainan jaman dulu oleh anak-anak Dusun Kadirojo, Bandongan, Gemer, Soka, Sumber, dan Gowok Pos. Setelah itu pada tanggal 1 - 4 Juli 2009 diselenggarakan workshop musik dan teater di Dusun Tutup Ngisor. ...selengkapnya TLATAH BOCAH Bola Salju Budaya
Merti dusun atau bersih dusun merupakan tradisi rutin yang dilakukan di beberapa desa, terutama di Pulau Jawa. Biasanya kegiatan ini dilakukan 1 tahun sekali dimana harinya ditetapkan oleh kalangan pendiri desa yang bersangkutan. Tujuan utama tradisi ini sebagai sarana berterima kasih karena banyaknya anugerah untuk desa serta sebuah upaya untuk tetap menjaga keselamatan / kemakmuran desa.
...selengkapnya Merti Dusun Sebagai Media Pelestari Budaya dan Tradisi Dukun, 07 Juni 2009, Irama musik gamelan mengalunkan gending-gending Jawa. Upacara Merti Dusun di dusun Tutup Ngisor (Gunung Merapi lereng Barat - red) telah mulai dengan dibuka oleh sesepuh dusun. Dalangpun mulai memainkan wayang kulit dan penonton menikmati sambil duduk lesehan di depan panggung. Tua muda maupun anak-anak berkumpul di dalam pendopo yang di depannya terdapat panggung permanen untuk pertunjukan seni dan budaya. Dusun Tutup Ngisor terdiri dari 60 keluarga yang masih kental dengan tradisi dan adat lokalnya. Tradisi dan adat masih terjaga terutama dengan adanya Padepokan Cipto Budoyo yang didirikan oleh Romo Yoso Sudarmo pada tahun 1937. Kegiatan merti dusun diadakan tiap tahun sekali dimana upacara ini adalah sebagai lambang perwujudan syukur kepada Sang Maha Pencipta atas segala berkah, limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya. Tradisi merti dusun diawali dengan bersih dusun secara bergotong-royong dan dilanjutkan dengan bersih kubur. Sehari setelah itu acaranya adalah kenduri yang dihadiri seluruh kepala keluarga dan malamnya adalah pentas wayang kulit.
Menurut Sitras Anjilin yang diangkat sebagai pimpinan padepokan Cipto Budaya mengatakan bahwa merti dusun rutin dilaksanakan tiap tahun dan semua pembiayaan ditanggung secara gotong royong oleh seluruh masyarakat. Berkumpulnya masyarakat dalam rangkaian acara merti dusun merupakan ajang sosial dimana setiap orang akan saling menyapa dan bertemu. Adat dan tradisi adalah sebagai pilar pertahanan pola pikir dan norma-norma dari pengaruh budaya asing yang gencar masuk melalui berbagai media. (Ikhwadunin compas-Sutet FM) ...selengkapnya | |
 |
| WARGA BICARA |
 |
Kehidupan Modern yang sangat Andil dalam Pemanasan Global Ketika ada sekelompok orang atau komunitas yang membentuk atau melestarikan kebudayaanya sebagai kampanye Pelestarian Lingkungan kadang terbentur yang namanya Musrik, Sirik, tahayul, padahal kearifan local yang mereka pertahankan adalah salah satu upaya agar Ala mini tetap Lestari ; contoh riilnya adalah “ nenek Moyang kami melarang kencing kencing buang air di bawah pohon Beringin atau pohon besar lainya. ...selengkapnya Pariwisata "Kembali Ke Alam Dan Budaya Lokal" Pariwisata yang berkembang di Negri tercinta Ini menurut Kami Lintas merapi Yang paling ikut andil Kerusakan Lingkungan,misalnya Warga yang tinggal di kawasan/daerah pariwisata hanya mendapatkan sampah yang di bawa pengunjung/Wisatawan,Gara-gara Suatu Lokasi menjadi Pariwisata Ramai-ramai membangun Hotel,Mall,dll, yang ini sangat tidak mendidik Generasi Kita ,(Konsumtif),belum lagi kalu pedagang kaki lima di anggap yang merusak pemandangan,keindahan, padahal hal yang mudah untuk kita beri kesadaran tentang kebersihan,menjaga lingkungan dll, tetapi Dasar Memang Negri ini Negrinya Pemodal Tetap saja kelompok ini di gusur di mana-mana,hanya sedikit PENGUASA yang berpikir misalnya : Pabrik Product Makanan Wajib menempatkan Bak Sampah dan Mengambilnya di Tempat-tempat Pariwisata,dan Tempat umum lainya,kalau di hitung andilnya besar dalam pencemaran lingkungan,(TANGGUNG JAWAB KITA SEBAGAI RAKYAT YANG TIDAK PUNYA KAPITAL APA YAAA..)
...selengkapnya Jalan Berkapling di Muntilan Muntilan .Tepatnya di jalan veteran ,sayangan kota muntilan kabupaten magelang,kalau sore hari mulailah berdiri warung-warung tenda yang memakan separuh jalan ,padahal jalan itu termasuk jalan yang sangat vital di Muntilan. Bisa dibayangkan kalau warung dalam keadaan ramai jalan jadi macet,,ditambah lagi yang separuh jalan lagi untuk parkir sepeda motor dan mobil,kalau musim hujan jalan banjir.karena saluran air disisi jalan ditutup dengan semen alias dibuat permanen. ...selengkapnya Bagaimana kelak nasib kami sebagai PETANI???? Aspek pengukur kemajuan sebuah desa ataupun kota dapat terlihat dari perkembangan perekonomian yang ada. Sebuah tempat pastinya akan dikatakan tertinggal jika pertumbuhan ekonomi di tempat tersebut dalam setiap tahun mengalami pertumbuhan kemajuan yang sangat minim dibandingkan dengan tempat lain tentunya. ...selengkapnya Rumitnya Proses Pembuatan KTP Dukun, KTP berbentuk sebuah kartu yang berisi data kependudukan diantaranya ada nomer kependudukan, nama, tanggal lahir, alamat, agama dan lain-lain yangmana KTP tersebut dikeluarkan oleh pihak kecamatan setelah syarat-syarat dipenuhi oleh pemohon. Yang berhak untuk memiliki adalah mereka yang telah berumur 16 tahun atau lebih atau sudah menikah pastinya mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP). KTP berguna sebagai identitas seseorang (legalitas sebagai warga negara).
KTP mempunyai masa berlaku dimana masa berlaku tersebut ketentuannya berubah-ubah. Dulu sebelum tahun 2008 KTP hanya 3 tahun tetapi saat ini menjadi 5 tahun. Adapun syarat pembuatan baru maupun perpanjangan yang harus dipenuhi diantaranya surat pengantar dari kelurahan setempat, foto ukuran 2x3 dan Kartu Keluarga (KK) dan pastinya biaya administrasi. Biaya administrasi tersebut bervarisasi. Dari yang umum sampai tidak umum (pernah kami lakukan maupun kami dengar) berkisar 5000 rupiah bahkan sampai ratusan ribu di beberapa kota. Ternyata KTP juga ada calonya ya..? mereka bilang untuk mempercepat proses dan mempermudah proses. Heren juga ya…???
Baru-baru ini di kecamatan Dukun ada sesuatu yang mencengangkan mengenai proses pembuatan KTP tersebut. Dahulu +/- tahun 2000 kami pernah membuat KTP selain syarat-syarat yang harus dipenuhi dan hanya cukup membayar 3000 rupiah dan waktu yang hanya menunggu tidak sampai berjam-jam bahkan 1 harian KTP tersebut sudah dapat dimiliki (sudah jadi). Kemudian sekitar tahun 2006 kami harus membayar 5000 rupiah (7500 rupiah bagi yang terlambat memperpanjang masa berlaku) dan harus menunggu selama 1 minggu. Tetapi pada tahun 2009 ini hal yang betul-betul mengagetkan adalah kami diharuskan membayar administrasi sebesar 5000 rupiah dan harus menunggu selama 60 hari alias 2 bulan……pantaskah waktu tersebut? Takutnya pada tahun-tahun yang akan datang bias 3 bulan bahkan sampai tahunan. Mereka banyak berdalih bahwa computer sedang ngadat/rusak, blangko KTP habis dll. Perasaan tinggal cetak…. Dimana ya profesionalisme dari mereka yang berkerja di kantor tersebut.
Masyarakat selalu dituntut untuk segera memperpanjang masa berlaku KTP tersebut. Padahal dalam aturan yang dapat kita baca dalam KTP tersebut tertulis “selambat-lambatnya dalam waktu 14 hari sejak masa berlaku habis, penduduk yang bersangkutan diwajibkan mengajukan permohonan untuk memperoleh KTP yang baru. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut diancam dengan pidana kurungan/denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Haruskah kami terjaring razia karena KTP kami sudah kadaluarsa/habis masa berlakunya? Ternyata di Negara ini system komputerisasi yang diterapkan di pemerintahan yang mana dimaksudkan untuk mempercepat pekerjaan dan dirasa tepat guna ternyata malah menghambat dan menjadi beban masyarakat. Dan akhirnya masyarakat lagi yang menjadi korban....selengkapnya | |
 |
| ANALISIS |
 |
PAD Kab. Magelang 21,9 M dari Rakyat Miskin Akhir tahun menjadi saat untuk mengukur kinerja sebuah pemerintahan yang lazimnya diwujudkan dengan pelaporan anggaran, evaluasi, dan disusunnya program untuk dilaksanakan di tahun berikutnya.Demikian halnya, Pemkab. Magelang bersama DPRD Kab. Magelang bulan ini masih membahas RAPBD 2008, meski agak terlambat (biasanya sudah penetapan-red). ...selengkapnya Banjir Lahar BERKAH hujan yang turun akhir-akhir ini kembali menunjukkan kejadian yang tidak bersahabat terhadap penduduk di bumi Indonesia. Hujan yang turun di awal Februari, telah menenggelamkan hampir duapertiga wilayah ibukota Jakarta, banjir serta genangan ini diikuti oleh beberapa kota besar lainnya di wilayah Indonesia.
...selengkapnya PHENOMENA ALIRAN DEBRIS DAN FAKTOR PEMBENTUKNYA 1. PENDAHULUAN ...selengkapnya Karakteristik Merapi Kawasan Gunung Merapi memiliki kekhasan ekosistem dan sosiosistem yang bernuansa volcano. Gunung ini merupakan gunung api aktif, bahkan teraktif di dunia karena periodisitas letusannya relatif pendek (3-7 tahun). Dalam kegiatannya, Merapi menunjukkan terjadinya guguran kubah lava yang terjadi setiap hari. Jumlah serta letusannya bertambah sesuai tingkat kegiatannya. Volume guguran kubah lava biasa oleh orang setempat disebut “wedhus gembel” atau glowing cloud/nueeardente atau awan panas. Geofisik Gunung Merapi memiliki tipe khas stratolandesit dan punya bentuk lereng yang konkaf. ...selengkapnya Wajah Ganda Gunung Merapi Wajah Gunung Merapi memang indah dan menawan untuk dipandang, gagah sekaligus anggun memesona. Gemericik air, hutan yang lebat, tanah yang subur, dan alam yang indah telah menghidupi puluhan ribu masyarakat yang ada di kakinya. Namun, juga kadang kala garang menantang dan terkesan mengancam kehidupan masyarakat. Wajah kedua itulah yang saat ini diperlihatkan oleh Merapi kepada masyarakat sejak kenaikan status menjadi "Siaga" pada awal April tahun ini (artikel lengkap silahkan dibaca pada file PDF terlampir--red) ...selengkapnya | |
 |
| SERBA-SERBI |
 |
Flu Babi membuatku gagal ke Vietnam Virus influenza H1N1 atau biasa disebut Flu Babi memang sedang menjadi perbincangan berbagai banyak orang bahkan di semua negara. Flu babi tersebut dinyatakan menjadi bencana internasional dan sudah memakan banyak korban. Bahkan virus tersebut saat ini telah merambah Negara Indonesia. Walaupun virus tersebut bukan berasal dari Indonesia tetapi sekarang telah menjadi endemic di Indonesia. Virus tersebut terbukti memang telah menular ke manusia terlebih kepada mereka yang berusia dibawah 25 tahun dan sebenarnya bukan berasal dari binatang babi. ...selengkapnya Relawan Disangka Pegawai Pemerintah Mbakyu Murtini adalah relawan dari merapi yang ingin belajar cara mendata ( assesment). Nach kebetulan habis gempa ada salah satu programnya NGO(Non Goverment Organization) yang memberikan peluang ini setelah teori ini dan itu 4 hari di hotel prambanan . ...selengkapnya Aktifitas Radio Lintas Merapi Meningkat Situasi Radio yang sementara waktu sering kosong karena kesibukan para relawan dengan kehadiran hari Raya Idul Fitri . sekarang sudah mulai sibuk mengimformasikan cuaca Gunung dan sesekali menghubungan Pos Pemantauan Gunung Merapi (PGM) kaliurang yang kemudian di informasikan Kepada pendengarnya."Sementara masih aman mas lomngsor kemarin hanya karena kikisan air hujan bukan karena dorongan magma " pak pecut di PGM kaliuarang ketika di hubungi Crew lintas merapi. "Bagaimana program tanamnya mas mbok di lanjutkan Di tanam di bekas lahan tambang" pak Bayan Diyanto yang sempat ketemu Crew Lintas di sela-sela Halal Bi Halal di balai desa sidorejo Hari Minggu kemarin. ...selengkapnya Peringati HUT ke-62 RI di Radio Lintas Merapi Tanggal 23 Agustus 2007 lalu, Radio Lintas Merapi dan warga masyarakat Deles, Klaten menawarkan pemanfaatan radio dan gardu visual milik warga kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam pemantauan dan penanggulangan risiko bencana Merapi. Anjuran itu disampaikan dalam pertemuan yang dihadiri oleh aparat Pemerintah Kabupaten Klaten yang diwakili oleh Edy Santoso (dari Kesbanglimas), Untung (Kecamatan Kemalang), Polsek Kemalang, dan perwakilan aparat di tiga desa rawan bencana Gunung Merapi, yakni Sidorejo, Tegalmulyo, dan Balerante. ...selengkapnya Perayaan 17 an di kemalang Tak lengkap rasanya perayaan HUT RI tanpa ada gelaran perlombaan. Di desa Sidorejo, kecamatan Kemalang, Klaten misalnya, warga di setiap dusun dengan suka cita merayakan HUT Kemerdekaan RI dengan mengadakan berbagai perlombaan. ...selengkapnya | |
 |
| PARIWISATA |
 |
Flu Babi Pengaruhi Kunjungan Wisman Ke Borobudur Magelang- Pertengahan Juli ini, wisatawan mancanegara (wisman) di Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) mulai menurun. Manajemen sendiri masih mengkaji penyebabnya apakah karena dampak krisis global atau imbas isu flu babi. ...selengkapnya TJIPTA BOEDAJA : Komunitas Seni yang Tak Lekang oleh Jaman Padepokan seni Tjipta Boedaja terletak di Dusun Tutup Ngisor, di wilayah Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Padepokan ini didirikan pada 1937 oleh Yoso Soedarmo atau yang populer dipanggil Romo Yoso. Menurut Darto, anak tertua Romo Yoso, salah satu maksud Romo Yoso mendirikan komunitas seni ini adalah untuk mengundang orang-orang di sekitar supaya datang ke dusunnya karena saat itu cukup terisolir sehingga membutuhkan daya tarik tertentu supaya masyarakat luar mau datang. Dari situ warga setempat akan dapat "ngangsu kawruh" dari orang-orang yang berkunjung.
Saat ini padepokan dipimpin oleh Sitras Anjilin (50 tahun), anak bungsu dari Romo Yoso. Anggota komunitas seni ini adalah warga setempat. Kesenian utama yang mereka tekuni adalah wayang orang. Pilihan ini disebabkan karena wayang orang mempunyai nilai-nilai luhur di dalamnya dan bahkan menjadi roh hidup bagi anggota. ...selengkapnya Kegiatan Radio Komunitas LINTAS MERAPI Dan Tim JEJAK PETUALANG Trans 7 Kegiatan Radio Komunitas Lintas Merapi lagi-lagi mendapat respon dari media, khususnya stasiun Televisi, terbukti pada tanggal 27-29 Februari 2008 Radio Komunitas Lintas Merapi dipercaya memandu crew televisi Trants7 dalam acara " Jejak Petualang Merapi 2008" Melalui jalur Deles-Merapi, dalam kesempatan itu juga dilepas dari Studio Lintas Merapi Oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Kemalang, Balai Taman Nasional Gunung Merapi yang di Wakili Oleh Kepolisian Hutan (Polhut) Bpk. Purnomo, ...selengkapnya Objek Wisata Deles Semakin Merana DELES INDAH yang dulu menjadi primadona wisatawan untuk berlibur di Klaten, kini merana, sepi dan ditinggalkan pecintanya. Warung-warung dari gubuk bambu yang pernah menghiasi sepanjang pinggiran jalan setapak yang membelah hutan lereng Gunung Merapi Desa Sidorejo, Kemalang, tersebut kini juga sudah tidak ada lagi. Tinggal onggokan gubuk yang roboh karena lapuk dimakan hujan dan panas. Padahal dulu para wisatawan bisa berteduh di gubuk-gubuk warung itu sambil menikmati, hangatnya mi atau kopi tradisional khas buatan penjaja warung di Deles ini. Sekarang juga sudah tidak ditemukan lagi bocah-bocah yang menjajakan tikar atau menawarkan bunga edelweis untuk suvenir. Keramahan masyarakat dalam menyambut wisatawan sudah sirna seiring semakin senyapnya pamor objek wisata Deles Indah tersebut.
Setiap akhir pekan, pada masa jayanya, Deles Indah dijejali oleh para pengunjung. Hampir di setiap sudut bawah rindangnya pohon ada kumpulan wisatawan baik keluarga maupun sejoli yang memadu kasih. Namun akhir pekan lalu, sejak pagi hingga siang hanya ada empat pengunjung. Yakni dua remaja tanggung masih berseragam sekolah, yang hanya duduk-duduk di atas sadel sepedamotor yang diparkir di depan warung Ny Ngadiyo (satu-satunya warung yang masih bertahan di Deles) dan sepasang pacar yang sedang bercengkerama di bawah pohon akasia dengan beralas tikar sewaan dari warung Ny Ngadiyo. Selebihnya hutan Deles benar-benar senyap, hanya terdengar bunyi serangga hutan. ”Mau ke atas takut, sepi sekali, khawatir ada apa-apa,” kata dua remaja yang tidak ingin disebutkan namanya, karena masih berseragam sekolah tersebut.
Ny Ngadiyo, salah satu saksi surutnya kondisi wisata di Deles mengungkapkan saat ini ia tak bisa berharap banyak mendapatkan penghasilan dari berjualan makanan. Ia tetap bertahan membuka warung, sekadar mengisi waktu, setelah tidak bisa lagi bekerja berat. Selain itu juga sekaligus menunggu ladang agar tidak diserang kera-kera liar Merapi. Setiap hari belum tentu ada pengunjung yang mampir ke warungnya. Hari Sabtu lalu, bahkan hingga pukul 14.00 hanya ada tiga pengunjung yang datang. Itupun karena mereka berteduh setelah turun hujan. ”Sekarang hanya saya yang buka warung, lainnya sudah tutup. Liburan tetap sepi sekali, sepuluh orang saja kadang tidak ada,” kata Ny Ngadiyo.
Ia berharap pemerintah daerah mengupayakan kembali pengembangan objek wisata Deles Indah ini, sehingga akan bisa membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar. Salah satu faktor yang berperan terhadap surutnya perkembangan wisata Deles, antara lain semula akibat rusaknya jalan menuju objek wisata, serta padatnya lalu lintas truk angkutan pasir yang membuat para wisatawan tidak nyaman. (Sri Warsiti) Sumber Berita : Harian Kedaulatan Rakyat
...selengkapnya Penemuan Candi Wurung di Lencoh, Selo Di Dukuh Wates, Desa Lencoh, Samiran, Selo, Boyolali telah ditemukan Candi Wurung yaitu pahatan batu yang terletak di pinggir jalan Dukuh Wates, Desa Samiran, pada November lalu. ...selengkapnya | |
 |
| PENANGGULANGAN BENCANA |
 |
Kesiapsiagaan sejak Dini Radio komunitas lintas merapi, radio yang hidup si kawasan rawan bencana merapi , memang sangat berguna untuk kesiapsiagaan masyarakat di komunitasnya, bukan saja soal-soal yang menyangkut gunung merapinya,bukan saja sebagai alat untuk informasi Gunung merapi tetapi juga sebagai wadah kegiatan masyarakat di sekitarnya.
...selengkapnya Simulasi Pengurangan Resiko Bencana (Latihan Evakuasi Bencana) Warga Dusun Gemer Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, mendadak geger. Pagi itu mendadak bunyi sirine yang menandai adanya bahaya dari Gunung Merapi dan warga harus segera mengungsi. Sirine tersebut dibunyikan oleh petugas Satuan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) setempat, karena melihat aktivitas Gunung Merapi meningkat ditandai keluarnya asap sulvatara dan turunya awan panas (wedhus gembel) yang cukup tebal yang mengarah ke dusun tersebut. Warga yang tengah bekerja pun, lari tunggang langgang mencari tempat aman untuk menyelamatkan diri. Mereka tidak berpikir lagi tentang harta benda. Yang terpenting bagi warga adalah nyawa mereka untuk dapat selamat dari bencana tersebut. Beruntung, petugas Satlak PBP dibantu Tim Siaga Pasak Merapi dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan petugas Limas Desa Ngargomulyo segera bertindak cepat. Dengan menggunakan sejumlah mobil bak terbuka, ambulans dan truk kepolisian dari Polres Magelang dan Kodim 0705 Magelang, beberapa warga terutama para orang tua (jompo), anak-anak, perempuan, cacat (defable) dan ibu hamil serta warga yang tengah sakit segera dievakuasi ke Tempat Pengungsian Sementara (TPS). Selanjutnya, mereka dibawa ke Tempat Pengungsian Akhir (TPA) di Lapangan Dukun, Kecamatan Dukun. Sekitar 2 kilometer dari Dusun Gemer. ...selengkapnya Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) Pengurangan Resiko Bencana (PRB) adalah sebuah program yang dilakukan untuk mengantisipasi/mempelajari sesuatu yang mungkin akan terjadi oleh adanya bencana, baik itu bencana alam atau bencana yang disebabkan oleh manusia. Sedangkan Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) adalah tindakan yang mana untuk mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar bencana untuk selalu lebih mengenal daerah/komunitas mereka sendiri, mengenal berbagai ancaman yang mungkin bisa terjadi yang mungkin akan mengakibatkan bencana bagi daerah/komunitas mereka dan mencoba untuk menggali solusi/kapasitas dari masing-masing individu yang ada di daerah/komunitas mereka sendiri sehingga masyarakat (dapat) mempersiapkan segala sesuatunya disaat maupun setelah/pasca bencana....selengkapnya Berhemat dengan Bak Semen Ubah Ancaman Jadi Peluang
Elanto Wijoyono
“Bayangkan, 19 juta rupiah habis hanya untuk air,” kata Sukiman, tokoh warga muda di Dusun Deles, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun kawasan tersebut tampak hijau sejauh mata memandang, tetapi dapat dipahami memang bahwa tempat yang berketinggian rata-rata 1000 – 1.300 meter di atas permukaan laut itu tidak memiliki air semelimpah di kawasan yang lebih hilir. Akibatnya, setiap masuk musim kemarau, warga pedesaan di lereng tenggara Gunungapi Merapi itu harus bersiap menghadapi kekeringan. Tak hanya sebulan dua bulan, kekeringan itu mewujud pasti selama musim kemarau berlangsung, rata-rata 6 – 7 bulan lamanya, dari bulan April hingga Oktober; yang datang menghantui setiap tahunnya.
Hitung-hitungan di atas bukannya tanpa dasar. Warga pedesaan kaki gunung yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan penambang pasir tradisional itu tahu betul apa yang mereka perlukan untuk menghadapi yang mereka alami. Setidaknya, sebuah inisiatif muncul di satu RT (rukun tetangga) di Deles untuk menanggulangi ancaman kekeringan. RT tempat Sukiman berdiam itu terdiri atas 20 KK (kepala keluarga) dengan rata-rata anggota keluarga berjumlah 4 orang. Setiap KK memerlukan air sebanyak 230 liter per hari. Kebutuhan itu jika diperinci merupakan akumulasi dari beragam kebutuhan, mulai dari mandi dan cuci 100 liter, makan dan minum 60 liter, dan untuk ternak (rata-rata 3 ekor kambing dan 3 ekor sapi) sejumlah 70 liter air. Yup, tentu saja diperlukan air sebanyak 4600 liter untuk mencukupi kebutuhan di satu RT itu saja....selengkapnya DASAR PENETAPAN KAWASAN RAWAN BENCANA   Menindaklanjuti pertanyaan saudara Tony (tony_regol@yahoo.co.id), bahwa wilayah gunungapi Merapi dibagi dalam 3 kawasan rawan bencana (KRB)yaitu KRB I, KRB II, dan KRB III. KRB I adalah daerah atau kawasan rawan bencana yang mempunyai risiko bencana paling kecil, sedangkan KRB II adalah kawasan rawan bencana yang mempunyai tingkat risiko sedang. Sedangkan KRB III merupakan kawasan rawan bencana yang mempunyai tingkat paling berisiko.
Dasar penetapan KRB adalah Sejarah Aliran lahar yang terjadi sebelumnya, mengacu pada Jarak luncuran lahar dan juga jarak antara sungai yang dilalui lahar dengan wilayah ancaman bencana.
Daerah Dekat dengan Puncak Merapi Belum Tentu KRB III
...selengkapnya | |
 |
| KLIPING |
 |
PENAMBANGAN PASIR KALI GENDOL ; Di Luar Batas Aman, Akan Ditindak SLEMAN (KR) - Pemkab Sleman melalui beberapa instansi terkait akan segera menindak dan menertibkan kegiatan penambang pasir di Kali Gendol, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan. Pasalnya, aktivitas truk dan para penambang di alur sungai itu sudah berada di luar batas aman yang direkomendasikan oleh Balai Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, yakni sejauh 7 km dari puncak Gunung Merapi. Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Alam Sleman, Singgih Sudibyo SH, mewakili Kepala Dinas P3BA Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, saat dikonfirmasi KR, Senin (27/10) siang menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi lainnya, terkait aktivitas penambangan pasir di Kali Gendol, Sabtu (25/10) kemarin. ...selengkapnya Gunung Merapi Dimuseumkan di Yogya KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
YOGYAKARTA, SENIN - Museum Gunung Merapi (MGM) di kawasan kaki Gunung Merapi saat ini telah selesai dibangun dan direncanakan awal 2009 sudah dapat beroperasi dan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). "Pembangunan fisik MGM saat ini sudah selesai dan dalam taraf pengisian materi, diharapkan awal 2009 sudah beroperasi dan menjadi tempat tujuan wisata edukatif," kata Bupati Sleman Ibnu Subiyanto, Senin (27/10). Menurut dia, MGM merupakan tempat yang memberikan edukasi tentang apa dan bagaimana gunung berapi serta bagaimana terjadinya erupsi atau awan panas. "MGM merupakan wadah edukasi yang menginformasikan bagaimana erupsi atau awan panas terjadi pada gunung berapi," katanya. Ia mengatakan, dengan adanya informasi yang benar diharapkan terjadinya erupsi Gunung Merapi tidak perlu ditakuti dan dikhawatirkan karena masyarakat telah memahami prosesnya. "Dengan informasi tersebut masyarakat dapat melakukan antisipasi dini dan tidak terlalu khawatir jika terjadi erupsi Gunung Merapi," katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, MGM juga diharapkan dapat menjadi penambah daya tarik wisatawan di kawasan kaki Gunung Merapi sehingga menjadi obyek wisata andalan Sleman. "Selain itu MGM diharapkan dapat menjadi obyek wisata alternatif di kawasan Gunung Merapi setelah Kaliurang dan Kaliadem yang sudah lebih dulu dikenal wisatawan," katanya. Ia menambahkan, saat ini yang menjadi kendala untuk menarik wisatawan di MGM adalah belum memadainya infrastruktur terutama jalan di obyek wisata tersebut. "Kami akan mengupayakan peningkatan kualitas jalan, hanya saja ada sedikit kendala karena dari usulan kami untuk pengaspalan di obyek wisata tersebut ternyata hanya sedikit saja yang bisa dipenuhi," katanya....selengkapnya Perangi Kemiskinan dan Hadapi Bencana SLEMAN, KOMPAS - Sebanyak 10 negara menghadiri lokakarya internasional radio komunitas di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (17/10). Lokakarya bertujuan menyamakan langkah dalam memerangi kemiskinan dan meminimalkan dampak bencana. Koordinator Regional Asosiasi Radio Komunitas Sedunia (Amarc) Asia Pasifik, Suman Basnet, mengatakan, dari pertemuan ini akan dibuat buku panduan berisi hal-hal praktis untuk diterapkan oleh radio komunitas.
Panduan yang dimaksud antara lain cara bertahan saat bencana dan contoh berita yang dibutuhkan komunitas pendengar radio untuk memerangi kemiskinan. ”Dalam bencana, stasiun radio bisa saja hancur. Namun, radio bisa langsung mengudara dalam seminggu bila pengelola menyimpan satu pemancar, satu mikrofon, dan satu mixer di tempat aman,” ujar Basnet yang berbasis di Nepal.
Perwakilan radio komunitas wanita Amarc, Bianca Miglioretto, mengatakan, radio komunitas merupakan benteng terakhir informasi ketika semua arus informasi terputus selama bencana. ”Radio komunitas sangat mudah didirikan, tak perlu daya jangkau luas maupun tenaga banyak. Radio komunitas juga tercepat dalam menyebarkan informasi bagi masyarakat,” katanya.
Dari 44 perwakilan radio komunitas yang hadir dalam acara hasil kerja sama Amarc, Combine Resource Institution (CRI), dan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini, 10 orang di antaranya berasal dari Indonesia. Peserta antara lain berasal dari Fiji, India, Banglades, Jepang, dan Australia. ”Kami memilih Indonesia karena kami anggap radio komunitas di Indonesia sudah berpengalaman menghadapi bencana,” kata Miglioretto.
Beberapa radio komunitas di Indonesia yang berperan besar saat bencana antara lain Radio Lintas Merapi di Deles, Klaten; Radio Angkringan FM di Desa Timbulharjo, Sewon, Kabupaten Bantul; serta sejumlah radio komunitas di Aceh dan Nias.
”Radio kami fokus pada aktivitas Merapi, terutama di saat waspada. Radio ini ada setelah Merapi meletus pada 1994,” kata pengelola Radio Lintas Merapi, Sukiman. (IRE) ...selengkapnya PUNCAK MERAPI DITERPA HUJAN; Ancaman Lahar Dingin Kembali Muncul SLEMAN (KR) - Hujan sepanjang petang hingga malam, Rabu (8/10) kemarin juga terjadi di kawasan puncak Gunung Merapi. Ancaman lahar dingin pun kembali muncul di sungai-sungai yang berhulu di gunung api paling aktif di dunia itu, bila hujan kembali muncul berturut-turut.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Dinas P3BA Sleman, Singgih Sudibyo SH kepada KR di kantornya, Kamis (9/10) siang mengatakan, hujan mulai turun di wilayah Sleman. Termasuk pula di kawasan puncak Merapi, yang terjadi petang hingga malam, Rabu (8/10) kemarin.
“Walau demikian hujan tersebut tidak sampai menimbulkan lahar dingin ke sungai-sungai yang ada di sana. Tampaknya air hujan itu baru merembes dan mengendap ke dalam material yang ada di puncak Merapi. Tetapi hal ini bisa menjadi peringatan awal terhadap ancaman lahar dingin,” ujar Singgih....selengkapnya Diresmikan Dubes New Zealand Kotak Pintar dan EWS Reduksi Bahaya Merapi
SLEMAN (KR) - Ancaman bahaya Gunung Merapi terhadap warga sekitarnya terus diantisipasi. Salah satunya dengan pemasangan Early Warning System (EWS) dan Smart Box atau kotak pintar di sejumlah titik rawan bahaya Merapi.
Operasional peralatan tersebut secara simbolis dilakukan Duta Besar New Zealand Mr Philip Gibson didampingi Bupati Drs H Ibnu Subiyanto di Dusun Kemiri Pakem, Rabu (27/8). Dubes juga mencoba pemakaian kotak pintar di SD Tarakanita Tritis Pakem.
Pada kesempatan itu, duta besar dan rombongan menyaksikan simulasi penanganan bahaya Merapi yang dilakukan warga setempat. Simulasi diawali dengan bunyi sirine sebagai pertanda warga harus mengungsi. Ratusan warga, mulai anak-anak sekolah, pemuda, orang tua dan lansia berlarian menuju tempat evakuasi. Mereka juga membawa perabotan rumah tangga dan ternak untuk diselamatkan. Bahkan sejumlah warga terlihat depresi dan histeris karena kehilangan harta benda atau keluarganya.Berkat kecekatan petugas, proses evakuasi bisa berjalan lancar. Dubes Philip Gibson terlihat antusias menyaksikan simulasi tersebut. Bahkan menyempatkan diri menyalami warga seusai peragaan tersebut. ...selengkapnya | |
 |
|
|
 |
|