|
30 October 2009 13:05:20 Radio komunitas lintas merapi, radio yang hidup si kawasan rawan bencana merapi , memang sangat berguna untuk kesiapsiagaan masyarakat di komunitasnya, bukan saja soal-soal yang menyangkut gunung merapinya,bukan saja sebagai alat untuk informasi Gunung merapi tetapi juga sebagai wadah kegiatan masyarakat di sekitarnya.
selengkapnya 9 March 2009 11:33:21 Warga Dusun Gemer Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, mendadak geger. Pagi itu mendadak bunyi sirine yang menandai adanya bahaya dari Gunung Merapi dan warga harus segera mengungsi. Sirine tersebut dibunyikan oleh petugas Satuan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) setempat, karena melihat aktivitas Gunung Merapi meningkat ditandai keluarnya asap sulvatara dan turunya awan panas (wedhus gembel) yang cukup tebal yang mengarah ke dusun tersebut. Warga yang tengah bekerja pun, lari tunggang langgang mencari tempat aman untuk menyelamatkan diri. Mereka tidak berpikir lagi tentang harta benda. Yang terpenting bagi warga adalah nyawa mereka untuk dapat selamat dari bencana tersebut. Beruntung, petugas Satlak PBP dibantu Tim Siaga Pasak Merapi dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan petugas Limas Desa Ngargomulyo segera bertindak cepat. Dengan menggunakan sejumlah mobil bak terbuka, ambulans dan truk kepolisian dari Polres Magelang dan Kodim 0705 Magelang, beberapa warga terutama para orang tua (jompo), anak-anak, perempuan, cacat (defable) dan ibu hamil serta warga yang tengah sakit segera dievakuasi ke Tempat Pengungsian Sementara (TPS). Selanjutnya, mereka dibawa ke Tempat Pengungsian Akhir (TPA) di Lapangan Dukun, Kecamatan Dukun. Sekitar 2 kilometer dari Dusun Gemer. selengkapnya 5 March 2009 13:13:29 Pengurangan Resiko Bencana (PRB) adalah sebuah program yang dilakukan untuk mengantisipasi/mempelajari sesuatu yang mungkin akan terjadi oleh adanya bencana, baik itu bencana alam atau bencana yang disebabkan oleh manusia. Sedangkan Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM) adalah tindakan yang mana untuk mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar bencana untuk selalu lebih mengenal daerah/komunitas mereka sendiri, mengenal berbagai ancaman yang mungkin bisa terjadi yang mungkin akan mengakibatkan bencana bagi daerah/komunitas mereka dan mencoba untuk menggali solusi/kapasitas dari masing-masing individu yang ada di daerah/komunitas mereka sendiri sehingga masyarakat (dapat) mempersiapkan segala sesuatunya disaat maupun setelah/pasca bencana.selengkapnya 21 October 2008 09:57:50 Ubah Ancaman Jadi Peluang
Elanto Wijoyono
“Bayangkan, 19 juta rupiah habis hanya untuk air,” kata Sukiman, tokoh warga muda di Dusun Deles, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun kawasan tersebut tampak hijau sejauh mata memandang, tetapi dapat dipahami memang bahwa tempat yang berketinggian rata-rata 1000 – 1.300 meter di atas permukaan laut itu tidak memiliki air semelimpah di kawasan yang lebih hilir. Akibatnya, setiap masuk musim kemarau, warga pedesaan di lereng tenggara Gunungapi Merapi itu harus bersiap menghadapi kekeringan. Tak hanya sebulan dua bulan, kekeringan itu mewujud pasti selama musim kemarau berlangsung, rata-rata 6 – 7 bulan lamanya, dari bulan April hingga Oktober; yang datang menghantui setiap tahunnya.
Hitung-hitungan di atas bukannya tanpa dasar. Warga pedesaan kaki gunung yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan penambang pasir tradisional itu tahu betul apa yang mereka perlukan untuk menghadapi yang mereka alami. Setidaknya, sebuah inisiatif muncul di satu RT (rukun tetangga) di Deles untuk menanggulangi ancaman kekeringan. RT tempat Sukiman berdiam itu terdiri atas 20 KK (kepala keluarga) dengan rata-rata anggota keluarga berjumlah 4 orang. Setiap KK memerlukan air sebanyak 230 liter per hari. Kebutuhan itu jika diperinci merupakan akumulasi dari beragam kebutuhan, mulai dari mandi dan cuci 100 liter, makan dan minum 60 liter, dan untuk ternak (rata-rata 3 ekor kambing dan 3 ekor sapi) sejumlah 70 liter air. Yup, tentu saja diperlukan air sebanyak 4600 liter untuk mencukupi kebutuhan di satu RT itu saja.selengkapnya 23 September 2008 09:18:32  Menindaklanjuti pertanyaan saudara Tony (tony_regol@yahoo.co.id), bahwa wilayah gunungapi Merapi dibagi dalam 3 kawasan rawan bencana (KRB)yaitu KRB I, KRB II, dan KRB III. KRB I adalah daerah atau kawasan rawan bencana yang mempunyai risiko bencana paling kecil, sedangkan KRB II adalah kawasan rawan bencana yang mempunyai tingkat risiko sedang. Sedangkan KRB III merupakan kawasan rawan bencana yang mempunyai tingkat paling berisiko.
Dasar penetapan KRB adalah Sejarah Aliran lahar yang terjadi sebelumnya, mengacu pada Jarak luncuran lahar dan juga jarak antara sungai yang dilalui lahar dengan wilayah ancaman bencana.
Daerah Dekat dengan Puncak Merapi Belum Tentu KRB III
selengkapnya 9 September 2008 13:12:38 BOYOLALI (MI) - Polres Boyolali, Jawa Tengah, menangkap empat pencuri alat pendeteksi kekuatan gempa (seismograf) Gunung Merapi di Puncak Londong, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Kapolwil Surakarta Kombes Taufik Anshori, di Boyolali, Selasa, mengatakan, empat dari lima tersangka ditangkap petugas di rumahnya masing-masing di Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali, sementara satu tersangka masih dalam pengejaran.
Menurut Kapolwil, dengan hilangnya seismograf menyebabkan alat pemantau Gunung Merapi di Yogyakarta, Magelang, dan Boyolali tidak berfungsi.
Keempat tersangka tidak menyadari jika aksinya itu dapat membahayakan ribuan jiwa manusia yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Polisi menyita barang bukti tiga kotak aki dan sembilan papan solar sell yang kini diamankan di Mapolres Boyolali.selengkapnya 8 October 2007 15:49:00 kendati merapi masih status Waspada bukan berarti tenang dan lupa, warga balerante yang didukung Pasag merapi dan Kesbanglinmas klaten hari ini mengadakan pertemuan untuk mengadakan persiapan rencana Simulasi Penanggulangan Bencana Merapi yang akan dilaksanakan setelah lebaran nanti. selengkapnya
|