Rumah Pelangi salah satu kelompok swadaya masyarakat di Muntilan, bulan depan akan mengadakan agenda budaya tahunan TLATAH BOCAH di lereng Gunung Merapi. Tema yang diangkat adalah "AYOM AYEM" (pelindung & pemberi kedamaian) dimana digunakan untuk menyikapi berlangsungnya dua pemilu di negara kita. Harapan yang dikemukakan itu sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk pemimpin pemerintahan namun juga untuk siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan atas pihak lain, seperti halnya Camat, Lurah, Kepala Dusun terhadap warganya. Namun juga guru terhadap murid, orang tua terhadap anak, juga kalangan dewasa terhadap anak-anak meskipun tidak ada hubungan darah.
TLATAH BOCAH tahun ini adalah yang ke 3 kalinya. Kali ini agenda yang diselenggarakan bersifat marathon karena dimulai dari tanggal 17 Juni 2009 dan berakhir tanggal 19 Juli 2009 di beberapa dusun. Selama dua minggu, diadakan roadshow berupa inventarisir permainan jaman dulu oleh anak-anak Dusun Kadirojo, Bandongan, Gemer, Soka, Sumber, dan Gowok Pos. Setelah itu pada tanggal 1 - 4 Juli 2009 diselenggarakan workshop musik dan teater di Dusun Tutup Ngisor.
Dukun, 07 Juni 2009, Irama musik gamelan mengalunkan gending-gending Jawa. Upacara Merti Dusun di dusun Tutup Ngisor (Gunung Merapi lereng Barat - red) telah mulai dengan dibuka oleh sesepuh dusun. Dalangpun mulai memainkan wayang kulit dan penonton menikmati sambil duduk lesehan di depan panggung.
Tua muda maupun anak-anak berkumpul di dalam pendopo yang di depannya terdapat panggung permanen untuk pertunjukan seni dan budaya. Dusun Tutup Ngisor terdiri dari 60 keluarga yang masih kental dengan tradisi dan adat lokalnya. Tradisi dan adat masih terjaga terutama dengan adanya Padepokan Cipto Budoyo yang didirikan oleh Romo Yoso Sudarmo pada tahun 1937.
Kegiatan merti dusun diadakan tiap tahun sekali dimana upacara ini adalah sebagai lambang perwujudan syukur kepada Sang Maha Pencipta atas segala berkah, limpahan rejeki, dan perlindungan-Nya. Tradisi merti dusun diawali dengan bersih dusun secara bergotong-royong dan dilanjutkan dengan bersih kubur. Sehari setelah itu acaranya adalah kenduri yang dihadiri seluruh kepala keluarga dan malamnya adalah pentas wayang kulit.
Menurut Sitras Anjilin yang diangkat sebagai pimpinan padepokan Cipto Budaya mengatakan bahwa merti dusun rutin dilaksanakan tiap tahun dan semua pembiayaan ditanggung secara gotong royong oleh seluruh masyarakat. Berkumpulnya masyarakat dalam rangkaian acara merti dusun merupakan ajang sosial dimana setiap orang akan saling menyapa dan bertemu. Adat dan tradisi adalah sebagai pilar pertahanan pola pikir dan norma-norma dari pengaruh budaya asing yang gencar masuk melalui berbagai media. (Ikhwadunin compas-Sutet FM)
selengkapnya
25 February 2009 10:56:46
Sang Dagelan yang konon bertugas di jalan untuk meminta duit dari para sopir yang tidak mau ruwet urusanya, saat ini dia memutuskan melepas tugas dari negerinya. Hal ini dia lakukan karena terdengar kabar bahwa sang Adipati (pimpinan sang Dagelan) diturunkan dari kursi singgasananya. "kasihan sang pimpinan negeri Dagelan karena menurut para sopir sang Adipati ini tidak terlibat dan mungkin malah tidak tahu kenapa yaa"
"Hemmm aman aku dari hukum...", (guman si Dagelan sambil ngopi di warung pak Petruk). Para bembaca yang budiman harap bersadar untuk mengetahui akhir dari cerita ini. Sang Adipati yang harus menanggung akibatnya, padahal belum tentu merasakan keenakanya atau malah tidak tahu berbagai pungutan yang dilakukan si Dagelan. Makanya kalo jadi Adipati harus sekali-kali turun ke lapangan, naik gunung turun gunung mengintip kehidupan anak buahnya kalau perlu sidak (inspeksi mendadak). Adipati juga bisa mencoba naik gunung mencari wangsit pada sang Resi yang tiap hari di gunung, bisa dipastikan sang Resi bisa membantu agar kehidupan menjadi lebih baik di negeri Dagelan. Tapi ingat asal jangan salah tujuan, mau datang bertemu Resi malah ketemu dukun santet.
Pembaca yang lagi ketawa dan pusing dengan tata bahasa tulisan ini, disarankan segera minum air putih dulu agar segar. diakhir tulisan ada ucapan terima kasih untuk “ mbak Sri” (Karang Kadempel) yang ikut prihatin dengan negeri Dagelan. Cuplikan episode selanjutnya kondisi di negeri Dagelan makin 'panas' bahkan sampai para punggawa sampai malu menujukan identitas resminya takut dikenali “mbak Sri”( Karang kadempel). Dalam edisi berikutnya tidak hanya bercerita tentang pak sopir tetapi pada para punggawa lain yang lebih besar penghasilannya. Penghasilan yang seharga kereta kuda (Andong Jepang). Mereka bertugas memberi sinyal kalau ada bahaya. Silahkan penasaran dan berguman sendiri “ Opo iki..". (Kmprt)
selengkapnya
3 November 2008 22:42:46
Acara Syawalan PASAG MERAPI Dihadiri Bupati Boyolali
Hujan yang mengguyur dari jam 10 pagi tidak mengurangi kemeriahan acara syawalan yang di adakan di SELO Boyolali. Acara yang rutin diadakan setiap tahun itu berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini sangat meriah walaupun anggota pasag yang hadir berkurang dari biasanya , tetapi berkurangnya ini lantaran ada acara yang bersamaan di masing-masing daerah.
Di klaten, Pasag Merapi banyak anggota yang disibukan dengan agenda kerja bakti mendirikan gardu ronda, sehingga hanya mewakilkan saja. anggota yang hadir acara tersebut 21 orang,yaitu dari boyolali,( musuk ada salah satu anggotanya yang Melangsungkan akad nikah).
Syawalan yang dimeriahkan dengan orkes melayu itu berlansung khidmad,meriah dan yang lebih dari biasanya adalah hadirnya Bupati Boyolali, kepala kesbanglinmas magelang & Boyolali.
Dalam sambutannya Bupati Boyolali “ Kami bangga mempunyai masyarakat yang seperti tergabung dalam pasag merapi ini, kalau semua masyarakat kita mempunyai kesadaran seperti ini, tentunya, pemerintah akan Ringan dalam penanganan bencana , semoga pasag –pasag yang lain akan tubuh di negri ini “.Kami sangat berterima kasih kepada Pasag Merapi yang setiap Musyawarah untuk penanggulangan bencana Merapi hadir dan andil dalam pemikiran-pemikirannya.”
Tambah Hari, Kesbanglinmas magelang dalam sambutan berikutnya. “ Kalau saja semua LSM/Lembaga punya pemikiran dan program seperti PSMB UPN, Kapalla jogjakarta, mendorong masyarakat bersatu dalam upaya keselamatan bersama, tentu negara kita aman dari bencana”.
Kuri menanggapi Rasan-rasan peserta yang lain. Pak Kuri adalah sebutan dari Riyanto Pasag Merapi klaten yang ngurusi siaran Radio komunitas lintas merapi “Budoyo Jowo”. Nampak hadir di lapangan joglo New selo Boyolali , Unsur muspika Kec.Selo, BPPTK Jogjakarta Kepala-kepala Desa Se Kec. Selo, dan pejabat Pemda Boyolali. ( sukiman Lintas merapi)
selengkapnya
22 October 2008 11:37:22
Tidak sekolah = euthanasia???
Ingatkah kita waktu kecil?,Ya... waktu kita mengalami masa-masa duduk di bangku SD. Menyenangkan bukan?, Sekolah merupakan lingkungan yang terdekat setelah keluarga dan masyarakat. Setelah SD kita ingin melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Tapi bagaimana dengan pandangan anak-anak dan masyarakat lereng merapi sebelah barat terhadap dunia pendidikan???
Mentari malu-malu menampakkan diri di punggung merapi. Mentari belum genap separo tetapi masyarakat dusun Gowok Pos sudah sibuk berangkat ke sawah dan ladang. Diantara kicau burung, anak-anak dengan wajah yang mungkin sebagian besar hanya cuci muka berjalan dengan riang menuju ke sekolah yang terletak di depan dusun. Dan ketika siang, selesai mengikuti proses belajar mengajar,anak-anak pulang ke rumah. Sesampainya mereka di rumah, yang ditemui di rumah adalah kekosongan, walupun sesekali orang tua pulang ke rumah hanya untuk mengantar pulang rumput untuk pakan ternak. Dan ketika sore menjelang diiringi bedug Maghrib, berduyun-duyun masyarakat pulang dari sawah dan dari tempat dimana mereka mencari nafkah(nglemboro dalam bahasa jawa-red). Begitulah gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat dusun Gowok Pos.
selengkapnya
22 September 2008 10:25:06
Tanggal 20 September 2008 kelas satu sampai dengan kelas empat SD Tarakanita Tritis, Purwobinangun mengadakan kunjungan ke luar sekolah atau yang sering disebut study tour dengan lokasi wisata ke Terminal Giwangan, Kebon Binatang Gembiraloka, dan Stasiun Lempuyangan.
Hal ini dilakukan dengan tujuan anak-anak mau belajar dengan obyek yang dihadapi. Maklum mereka adalah anak pedesaan yang tidak tahu betul dengan situasi di laur daerahnya. Kalaupun ada cuma beberapa anak saja yang pernah pergi ke kota Yogyakarta.Hanya satu atau dua anak saja.
Kegiatan ini harapannya menjadi alternatif lain dalam pembelajaran kepada anak. Dan juga menambah nuansa baru dalam pendidikan SD Tarakanita Tritis. Anak-anak sangat berantusius sekali dalam kegiatan studi wiasat ini. Hal ini terbukti ketika anak mau berangkat ke obyek wisata. banyak anak yang bertanya, "Pak Guru, kapan kita berangkat?" Wajah mereka juga terlihat sangat gembira. Orang tua murid juga ada yang ikut serta untuk mendampingi anak-anak. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan pendidikan di SD Tarakanita Tritis.
SD Tarakanita Tritis merupakan salah satu SD yang terletak paling utara di Kabupaten Sleman. SD ini terletak di lereng Bukit Turgo. Bukit Turgo sangat dekat dengan Gunung Merapi dan masuk dalam ring bencana merapi I. Maka tak heran bila Gunung Merapi tampak sangat jelas dilihat dari SD Tarakanita Tritis. (Y. Murdiyono)
selengkapnya
28 April 2008 14:49:00
Keberlanjutan dari Rembuk Budaya yang di laksanakan pada bulan Oktober 2007 akhirnya dikit demi sedikit menelurkan hasil, dengan di inisiasi oleh Pemuda Peduli Lingkungan ( PEPELING) dengan menghadirkan para pemegang kebijakan atau Pemerintahan Kabupaten Boyolalai untuk duduk bersama dengan para pelaku seni rakyat yang menyebar di kecamatan selo, dengan berbagai ajuan program kegiatan demi mengembangkan salah satu potensi yang ada di kecamatan selo berupa seni rakyat.
Salah satu yang menjadi kebaahagiaan dari para pelaku seni dengan Rembuk Budaya Tersebut ajuan yang berupa sarana dan prasarana dari kelompok-kelompok kesenian pun akhirnya di realisasi , Ini sangatlah bermanfaat sekali untuk mengembangkan demi kemajuan kelompok seni yang pada umumnya mengalami keterbatasan pendanaan .
Lebih Menarik Lagi ! setelah sarana dan prasarana dasar di tingkatan kelompok terwujudkan di lanjutkan dengan program kegiatan optimalisai terhadap kelompok kesenian dengan di adakanya pentas rutinan di Joglo Mandala Selo setiap bulan dua kali pentas, kegiatan ini di fasilitasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali.
Lantas, karena banyaknya Kelompok kesenian yang ada di Kecamatan Selo yang terdiri kurang lebih 54 kelompok kesenian maka dari Panitia kegiatan melakukan penjadwalan dalam satu hari pentas menghadirkan 4 kelompok kesenian dengan melihat model tarian yang ada agar dapat bervariasi dan para pengunjung tidak mengalami kejenuhan dalam melihat kiprah dari kelompok kesenian.nrd/mmcfm
selengkapnya
14 February 2008 11:05:00
Kesekian kalinya kenduri keselamatan untuk Memetri Tuk (Mata air) yang di lakukan oleh warga masyarakat Dukuh Kuncen Desa Samiran pada hari selasa 12 februari 2008. Sebagai ucapan rasa syukur untuk segala anugrah dari yang Maha Kuasa atas pemberian berupa sumber mata air yang terletak di Dukuh Kuncen Desa Samiran Kecamatan Selo. Kendurin ini sudah di lakukan berpuluh-puluh tahun lamanya yang merupakan warisan dari para sesepuh dan nenek moyang yang selalu diadakan setiap tahun di bulan Sapar.
Tradisi ini diawali dengan acara bersih-bersih di sekitar mata air dan lingkungan dukuh di mana ada 4 tuk/sumber mata air yang terletak di wilayah Dukuh Kuncen yaitu Tuk Dadap Eri, Tuk Setren, Tuk Pampung dan Tuk Tampah yang merupakan tuk/sumber mata air tabungan di musim kemarau apabila sedang dilanda kekeringan atau ketika tuk utama dari wilayah gunung Merbabu tidak mengalir. Sumber mata air ini dimanfaatkan oleh 4 kampung , Kuncen, Samiran,Gebyok dan Sidosari, tidak menutup kemungkinan dari wilayah Desa Surateleng pun memanfaatkanya ketika juga dilanda kekeringan meski harus menempuh jarak hampir satu setengah kilo meter atau hampir satu jam perjalaanan.
Kenduri dilakukan di dua tempat yaitu di rumah kepala Dukuh dan di pelataran dekat sumber mata air yang sudah disediakan warga masyarakat. Setiap warga membawa sebuah tumpeng yang dilengkapi ubo rampenya(perlengkap-red) lantas dibawa ke rumah kepala Dukuh. Kemudian sebagian warga melakukan kenduri yang berada di dekat sumber mata air dengan membawa satu buah tumpeng dan sesaji di 4 sumber mata air.
Tradisi ini sudah sangat akrab di tingkatan warga bahkan mereka menggunakan momen ini sebagai ajang untuk saling silaturohmi diantara sanak saudara. [Nrd][SB]
selengkapnya
10 January 2008 17:07:00
Bulan Januari merupakan Bulan suci bagi warga masyarakat Kecamatan Selo. Pada Januari 2008 bersamaan dengan peringatan satu Muharom banyak tradisi ritual di bulan Muharom/bulan Suro yang dilaksanakan baik secara bersama-sama satu kecamatan maupun yang di tiap pedukuhan.
Terlihat di salah satu dukuh, di bulan muharom/bulan Suro mengadakan tradisi kenduri keselamatan. Warga masyarakat mengenalnya kenduri Baritan. Sebuah tradisi yang telah dilaksanakan dari dahulu dan oleh masyarakat sekitar, kenduri ini sebagai salah satu adat bagi warga untuk menjauhkan dari mara bahaya dan agar terjauh dari gangguan apapun. Warga masyarakat melakukan ritual adat ini dengan berkeliling dukuh di tengah malam dengan membawa sesaji dan mereka sambil berdoa meminta kepada Sang Pencipta agar seluruh warga dukuh diberi keselamatan dan diberi kemudahan hidup.
Proses awal kenduri ini adalah warga memilih hari yang telah menjadi panutan di setiap bulan Suro tepatnya pada malam hari pada Selasa kliwon, tetapi apabila malam Selasa kliwon tidak ada dalam perhitungan, mereka memilih malam Jum’at kliwon sebagai gantinya. (Nrd)(SB)
selengkapnya
29 December 2007 23:28:00
Salah satu program pemerintah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini berarti setiap warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak sebagai pendorong dan terciptanya sumber daya manusia yang handal.
Sebagai peterjemahan program tersebut Pemerintah Kabupaten Boyolali yang dilaksanakan di Kecamatan Selo, mengadakan program KF ( keaksaraan fungsional ). Sebagai sasaran Progam ini adalah para orang tua yang belum bisa membaca dan menulis ini sangat ditekankan bagi warga yang diatas usia sekolah dan dibawah umur 50 tahun tetapi belum bisa membaca dan menulis. Sebagai targetnya terciptanya warga dari bebas tiga buta.
Antusiasme warga sangat tinggi terlihat di Desa Samiran lebih dari 5 kelompok belajar sudah berjalan, meski para warga yang mengikuti program KF terlihat sudah sangat dewasa bahkan bisa dibilang sudah tua, masih semangat dan berminat untuk bisa membaca dan menulis, Biasanya waktu belajar pada waktu siang hari dan sebagai pembibingnya diambil dari warga setempat.
Proses belajar di awali dari perkenalan huruf-huruf, menulis dan menggambar hampir sama seperti pelajaran pada murid di taman kanak-kanak atau TK. (nrd)
selengkapnya
10 September 2007 21:40:00
Kegiatan nyadran atau bersih makam (warga setempat biasa menyebutnya besik, red) ini adalah suatau kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat desa, khususnya di Deles, Sidorejo, Kemalang, Klaten yang dilaksanakan Senin 3 September 2007 atau tepat tanggal 20 Ruwah. Kegiatan itu diawali dengan kenduri, sebelum memulai besik di pemakaman umum. Kenduri ini dilaksanakan serentak bergantian dari rumah ke rumah. Tradisi ini di maksudkan agar selamat dalam kegiatan bersih makam leluhur.
selengkapnya
30 August 2007 11:11:00
Bulan Ruwah adalah salah satu bulan bagi masyarakat lereng Merapi melakukan upacara adat. Warga lereng Merapi yang bermukim di Samiran, Selo, Boyolali juga melakukan adat istiadat mereka di bulan Ruwah ini dengan tradisi sadranan. Sadranan merupakan budaya masyarakat Samiran untuk mengirim doa kepada arwah dan leluhur mereka yang telah meninggal. Juga sebagai momen untuk menjalin tali silaturahmi di antara keluarga, saudara, maupun teman. Acara sadranan ini telah berlangsung cukup lama, bahkan lebih dari 50 tahun.
selengkapnya